Jamu herbal telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Berbagai bahan alami, seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur, diolah menjadi minuman yang dikonsumsi untuk menjaga kebugaran tubuh.
Bahan alami memang sering menjadi pilihan dalam pembuatan jamu. Meski demikian, kehalalan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh bahan utamanya. Bahan tambahan, bahan penolong, metode pengolahan, hingga proses produksi juga perlu diperhatikan untuk memastikan produk memenuhi ketentuan halal.
Lantas, apa saja titik kritis kehalalan jamu herbal yang perlu dicermati? Simak penjelasannya berikut ini.
Apakah Jamu Herbal Pasti Halal?
Jamu herbal tidak otomatis dapat dinyatakan halal hanya karena menggunakan bahan-bahan alami. Penentuan status halal suatu produk perlu mempertimbangkan keseluruhan bahan yang digunakan serta proses pembuatannya.
Bahan herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur pada dasarnya dapat digunakan dalam produk halal. Namun, produsen juga perlu memastikan bahwa bahan tambahan dan bahan penolong yang digunakan memenuhi persyaratan halal.
Sebagai contoh, jamu yang dikemas dalam bentuk kapsul mungkin menggunakan cangkang berbahan gelatin. Sementara itu, produk herbal cair atau ekstrak herbal dapat melibatkan penggunaan pelarut dan bahan tambahan tertentu dalam proses produksinya. Asal-usul dan penggunaan bahan tersebut perlu diperiksa sesuai ketentuan yang berlaku.
Oleh karena itu, konsumen perlu lebih cermat dalam memilih jamu herbal. Bagi produsen, pemeriksaan bahan dan proses produksi merupakan bagian penting untuk memastikan pemenuhan persyaratan sertifikasi halal.
Titik Kritis Kehalalan Jamu Herbal yang Perlu Dicermati
Untuk memastikan kehalalan jamu herbal, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari bahan baku hingga proses pengolahan produk.
1. Bahan Tambahan yang Berasal dari Hewan
Selain menggunakan bahan herbal, produsen dapat menambahkan bahan lain untuk mendukung karakteristik dan kualitas produk. Beberapa bahan tambahan mungkin berasal dari hewan sehingga sumber dan proses pengolahannya perlu diperiksa.
Salah satu contohnya adalah gelatin yang digunakan dalam cangkang kapsul atau formulasi produk tertentu. Gelatin dapat berasal dari berbagai sumber hewani, sehingga status kehalalannya perlu ditelusuri berdasarkan asal bahan dan proses produksinya.
Penggunaan bahan yang berasal dari hewan tidak selalu berarti produk tersebut haram. Statusnya bergantung pada sumber bahan, ketentuan syariat yang berlaku, serta pemenuhan persyaratan halal yang relevan.
Karena itu, produsen jamu herbal perlu memiliki informasi bahan yang memadai, termasuk spesifikasi bahan dan dokumen pendukung kehalalannya.
2. Penggunaan Alkohol atau Etanol
Alkohol atau etanol dapat digunakan dalam proses pengolahan produk herbal, misalnya sebagai pelarut untuk mengekstraksi senyawa tertentu dari bahan tanaman. Penggunaannya perlu dicermati karena status halal produk tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan keberadaan istilah alkohol pada komposisi.
Penilaian kehalalan perlu mempertimbangkan asal etanol, tujuan penggunaannya, proses produksi, serta ketentuan halal yang berlaku untuk kategori produk terkait.
Dengan demikian, tidak tepat jika semua produk yang menggunakan etanol langsung dinyatakan haram. Sebaliknya, keberadaan bahan tersebut juga tidak boleh diabaikan tanpa pemeriksaan yang sesuai.
Produsen perlu mendokumentasikan bahan yang digunakan dan memastikan kesesuaiannya dengan persyaratan halal. Informasi ini penting, terutama untuk produk herbal cair dan ekstrak yang melibatkan tahapan pelarutan atau ekstraksi.
3. Bahan Penolong dalam Proses Produksi
Titik kritis kehalalan tidak hanya terdapat pada bahan yang tercantum dalam komposisi akhir produk. Bahan penolong yang digunakan selama proses produksi juga perlu diperhatikan sesuai fungsi dan ketentuan yang berlaku.
Dalam pengolahan jamu herbal, bahan penolong dapat digunakan pada tahapan tertentu untuk membantu proses ekstraksi, pemurnian, atau pengolahan bahan. Produsen perlu mengetahui jenis bahan yang digunakan, asal-usulnya, dan kemungkinan keterlibatannya dalam proses produksi.
Selain itu, informasi dari pemasok perlu diperiksa untuk memastikan bahwa bahan yang digunakan sesuai dengan persyaratan halal. Dokumentasi yang tertata akan membantu perusahaan menelusuri bahan apabila diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dengan memahami seluruh bahan yang terlibat dalam produksi, produsen dapat melakukan pengendalian yang lebih baik terhadap aspek kehalalan produknya.
4. Proses Pengolahan dan Fasilitas Produksi
Kehalalan jamu herbal juga berkaitan dengan proses pengolahan dan fasilitas produksi. Bahan yang memenuhi persyaratan halal tetap perlu ditangani dengan cara yang sesuai agar tidak mengalami kontaminasi dari bahan yang tidak memenuhi ketentuan halal.
Hal ini mencakup penanganan bahan baku, penyimpanan, penggunaan peralatan, serta proses produksi dan pengemasan. Apabila fasilitas digunakan bersama untuk berbagai jenis produk, perusahaan perlu menerapkan pengendalian yang sesuai dengan ketentuan halal.
Produsen juga perlu memperhatikan kebersihan dan kondisi peralatan serta memastikan prosedur produksi diterapkan secara konsisten. Pengendalian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kehalalan produk dari awal hingga produk siap dipasarkan.
Dengan demikian, pemeriksaan kehalalan jamu herbal perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan daftar komposisi yang tercantum pada kemasan.
Bagaimana Cara Memastikan Jamu Herbal Halal?
Konsumen dan produsen memiliki peran yang berbeda dalam memastikan kehalalan jamu herbal. Konsumen dapat memeriksa informasi produk sebelum membeli, sedangkan produsen perlu memastikan bahwa bahan dan proses produksinya memenuhi persyaratan yang berlaku.
1. Memeriksa Informasi dan Sertifikat Halal Produk
Bagi konsumen, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memeriksa label halal serta memastikan informasi sertifikat produk melalui kanal resmi BPJPH. Pemeriksaan ini membantu konsumen memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai status sertifikasi produk.
Jangan hanya mengandalkan klaim seperti “herbal”, “alami”, atau “tradisional” untuk menyimpulkan bahwa suatu produk telah memenuhi persyaratan halal. Istilah tersebut menjelaskan karakteristik produk, bukan dengan sendirinya membuktikan status sertifikasi halalnya.
2. Memastikan Asal Bahan dan Dokumen Pendukung
Bagi produsen, pemeriksaan perlu dilakukan sejak pemilihan bahan baku. Informasi mengenai komposisi, asal bahan, spesifikasi, serta dokumen pendukung perlu dikumpulkan dan ditinjau sesuai persyaratan yang berlaku.
Apabila bahan diperoleh dari pemasok, perusahaan perlu memastikan informasi yang diberikan cukup untuk menilai kesesuaiannya. Pengelolaan dokumen yang baik juga memudahkan penelusuran ketika terjadi perubahan bahan atau pemasok.
3. Menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal
Pemenuhan persyaratan halal tidak berhenti pada pemeriksaan bahan. Perusahaan juga perlu menerapkan pengendalian yang sesuai terhadap proses produksi, penyimpanan, dan penanganan produk.
Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi pemenuhan persyaratan halal. Melalui penerapan sistem yang sesuai, pelaku usaha dapat mengelola bahan, proses, dokumentasi, serta tanggung jawab personel secara lebih terstruktur.
Untuk memahami penerapannya, pelaku usaha dapat mempelajari Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) dan mempersiapkan kebutuhan sertifikasi melalui tahapan yang sesuai.
Mengapa Sertifikasi Halal Penting bagi Produsen Jamu Herbal?
Sertifikasi halal merupakan aspek penting bagi produsen yang ingin memastikan produknya memenuhi persyaratan halal dan ketentuan yang berlaku. Proses ini mendorong perusahaan untuk memeriksa bahan yang digunakan, menata dokumentasi, serta memastikan proses produksi dijalankan sesuai persyaratan.
Selain mendukung pemenuhan ketentuan, pengelolaan kehalalan yang baik juga membantu perusahaan memberikan informasi produk yang lebih jelas kepada konsumen. Hal ini menjadi relevan ketika masyarakat semakin memperhatikan komposisi dan status halal produk yang dikonsumsi.
Pelaku usaha yang ingin mempersiapkan proses sertifikasi dapat mempelajari persiapan sertifikasi halal agar lebih memahami dokumen, bahan, dan proses yang perlu diperhatikan.
Kesimpulan
Jamu herbal tidak otomatis halal hanya karena dibuat dari bahan alami. Kehalalannya perlu diperiksa berdasarkan bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, serta proses pengolahan dan produksi yang digunakan.
Beberapa titik kritis yang perlu dicermati meliputi bahan tambahan yang berasal dari hewan, penggunaan alkohol atau etanol, bahan penolong dalam produksi, serta pengendalian fasilitas dan peralatan. Pemeriksaan setiap aspek harus dilakukan sesuai karakteristik produk dan ketentuan halal yang berlaku.
Bagi konsumen, memeriksa informasi dan sertifikat halal merupakan langkah penting sebelum memilih produk. Sementara itu, bagi produsen, pengelolaan bahan dan penerapan SJPH dapat membantu mempersiapkan serta menjaga pemenuhan persyaratan halal.
Apabila Anda merupakan pelaku usaha jamu herbal yang membutuhkan pendampingan dalam memahami persyaratan dan proses sertifikasi, IHATEC menyediakan jasa konsultasi sertifikasi halal untuk membantu perusahaan mempersiapkan kebutuhan sertifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Sumber:
https://mui.or.id/baca/halal/anda-peminum-jamu-cermati-titik-kritis-keharamannya